
Mikotoksin adalah metabolit toksik yang dihasilkan oleh jamur yang mengontaminasi bahan baku dan pakan, yang merupakan ancaman penting pada produksi ternak. Sekitar 55% bahan baku untuk ternak di Amerika Selatan terindikasi terkontaminasi mikotoksin.
Toksisitas dan efek merugikan mikotoksin juga bervariasi berdasarkan banyak faktor, seperti rute pemberian, waktu dan jumlah paparan, dosis yang dikonsumsi, dan status imun. Secara umum, hewan yang lebih muda lebih sensitif terhadap mikotoksin dibandingkan hewan yang lebih tua (Magnoli dkk., 2019).
Selama bertahun-tahun, beberapa makalah telah diterbitkan tentang tantangan mikotoksin, sebagaimana dijelaskan dalam tabel berikut (Tabel 1).
| Mycotoxin | Affected organ | Toxicity | |
| Aflatoxicin | AFB1, AFB2, AFG1 and AFG2 | Hepatotoxicity, carcinogenic and teratogenic effects | Birds:+++ Pigs:++ Fish:++ |
| Trichothecenes | DON, NIV (type B), T-2 and HT-2 (type A) | Immunological effects, Hematological changes, digestive disorders, dermatitis, oral lesions, intestinal bleeding and edema | Birds:++ Pigs:+++ Fish:++ |
| Zearalenone | ZEA | Estrogenic effects, testicular and ovarian atrophy, abortions | Birds:+ Pigs:+++ Fish:++ |
| Ochratoxin | OT (type A) | Nephrotoxicity, porcine nephropathy, mild liver damage, immune suppression | Birds:+++ Pigs:+ Fish:+ |
| Fumonisin | FB1 and FB2 | Porcine pulmonary edema |
Birds:+ Pigs:+++ Fish:+ |
| +++High toxicity; ++Moderate toxicity; +Mild toxicity (Adapted from Magnoli et al., 2019) | |||
Beberapa strategi mendasar diperlukan untuk meminimalkan dampak mikotoksin, seperti perbaikan praktik pertanian dan penyimpanan yang baik untuk menghindari perkembangbiakan jamur, pemantauan bahan baku dan pakan secara terus-menerus untuk mendeteksi keberadaan mikotoksin, dan penggunaan feed aditif toksin binder untuk membuat mikotoksin tidak tersedia dan/atau menonaktifkannya di sepanjang saluran pencernaan dan menghindari efek negatifnya.
Salah satu zat aditif yang tersedia di pasaran adalah ekstrak dinding sel ragi (Saccharomyces cerevisiae), yang kaya akan karbohidrat fungsional tak larut, β-glukan, dan MOS, yang memiliki afinitas tinggi terhadap mikotoksin. β-glukan mengikat mikotoksin melalui ikatan van der Waals dan hydrogen, sehingga membatasi kemampuannya untuk mencapai sirkulasi sistemik dan mengurangi efek toksiknya.
Selain pengikatan langsung, β-glukan dapat memengaruhi biotransformasi mikotoksin dengan memodulasi aktivitas enzim hati yang penting untuk detoksifikasi. Enzim-enzim ini, seperti sitokrom P450, glutation S-transferase, dan glikosiltransferase, memainkan peran penting dalam mengubah mikotoksin menjadi metabolit yang kurang toksik dan lebih larut dalam air, sehingga lebih mudah diekskresikan dari tubuh.
ICC Brazil bersama BEC memiliki solusi nutrisi berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan mikotoksin yakni dengan penggunaan Starfix. Keunggulannya terletak pada ragi, yang merupakan ragi fermentasi sekunder, dengan sel matang yang memiliki konsentrasi b-glukan yang tinggi akibat proses fermentasi (pH rendah, suhu tinggi, dan konsentrasi etanol). Sehingga membuatnya lebih sulit dicerna dan fungsional dalam penyerapan mikotoksin. Dengan menggunakan Starfix, produsen dapat menjamin keamanan dan performa yang lebih baik bagi ternak mereka, sehingga mengurangi kerugian ekonomi dan meningkatkan profitabilitas produksi.
BEC Feed Solutions Indonesia berkolaborasi dengan Big Dutchman dan Hendrix Genetics untuk mengadakan seminar di Tangerang dan Lampung
BEC Feed Solutions Indonesia berkolaborasi dengan Big Dutchman dan Hendrix Genetics menyelenggarakan seminar bertajuk Layer [...]
Formula HP dari Jefo Nutrition untuk Mengembalikan Fungsi Hati
Mikotoksin tidak dapat dihindari, terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Mikotoksin pada bahan pakan dapat [...]